Tampilkan postingan dengan label karyawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karyawan. Tampilkan semua postingan

Trik Agar Disukai Pewawancara


Ada beberapa cara membuat pewawancara jatuh hatipada kita:


Kadar senyum: pas!
Benar,bersikap ramah dan pasang tampang bersahabat itu perlu, tapi bukanberarti kita malah mengobral senyum selama wawancara berlangsung.Selain menunjukkan grogi dan kurangnya rasa pede, kebanyakan senyumjuga membuat pewawancara menilai kita 'palsu'—masa, sih, tetapsenyum saat lagi dipaparkan beratnya jobdescription posisiyang kita lamar.
Intinya,senyumlah di saat yang tepat, misalnya saat pewawancara ngajakbercanda.


Stop mengisi jeda
Ditengah-tengah wawancara, kadang suka ada jeda kosong di mana kita danpewawancara sama-sama diam nggak bersuara, misalnya saat pewawancaralagi mengecek CV. Rasanya memang kurang nyaman—bikin salting gitu,deh. Tapi, nggak perlu merasa berkewajiban mengisi jeda itu denganobrolan, apalagi bila topiknya nggak mutu dan terkesan basa-basi.
Jikamemang nggak tahan untuk cuap-cuap, pilih topik serius danberhubungan dengan bidang pekerjaan yang dilamar.


Nggak keringetan
Percumakita sudah dandan cantik dan berpenampilan rapi jika saat wawancaramalah heboh menghapus keringat di jidat. Ingat, perusahaan mencarikaryawan, bukan personaltrainer—kecualimelamarnya ke fitnesscenter.
Read the rest of this entry »

Populer di Kantor Baru

Kecuali kita secantik model atau anak bos, kemungkinan untuk langsung populer di kantor baru memang kecil. Tapi, bukan berarti mustahil.
Tanpa bermaksud sok eksis, banyak keuntungan lain yang bisa diperoleh jika kita populer di kantor. Misalnya, nih, kita jadi nggak segan meminta bantuan saat mengalami kesulitan.
Cukup dengan beberapa trik, kita bisa, kok, cepat dikenal oleh para 'penghuni' lama.

Kenali Si Populer
Dalam waktu kurang dari seminggu, biasanya kita sudah bisa mengenali siapa si populer di kantor. Ada yang populer karena prestasinya, ada yang populer karena kelakuan minusnya, ada juga yang populer karena supel. Saran CC, nih, dekati yang supel. Kenapa? Karena tipe ini biasanya punya banyak teman—bahkan dari divisi berbeda. Berteman dengan tipeini otomatis membuka peluang kita kenal lebih banyak orang.

Gabung Makan Siang
Pas jam makan siang, jika melihat ada rombongan mau berangkat makan, bertanyalah pada mereka apakah kita boleh gabung. Kalau belum pede gabung ke kelompok besar, minimal gabung ke rekan yang duduknya bersebelahan dengan kita, deh. Yang penting, usahakan makan siang dengan rekan baru, jangan malah melipir sendirian.

Sogokan Perut
Cari tahu ke sekretaris, jenis makanan apa yang biasanya disukai rekan satu divisi. Lalu, jangan pelit keluar modal untuk membeli makanan tersebut dan meletakkannya di meja umum. Jika nggak ada meja umum, letakkan saja di meja kita, sambil menawarkan setiap orang untuk mengambilnya. Nggak perlu makanan mahal, sekadar cemilan ringan juga akan meninggalkan kesan, kok. Dari perut turun ke hati, kan.
Read the rest of this entry »

Sudahkah Anda Memiliki Inteligensi Kolektif?


Seorang teman yang bertanggung jawab menangani divisi sumber daya manusia di sebuah universitas, mengeluhkan betapa para ilmuwan, dosen, bahkan profesor, sangat sulit bekerja sama. Teman lain, yang bekerja di rumah sakit, ternyata mempunyai keluhan yang sama.
Di satu sisi organisasi berjuang keras untuk mendapatkan individu terbaik dan terpintar, namun di sisi lain saat orang-orang pintar ini berkumpul, proses diskusi malah menjadi lebih alot dan bahkan bisa tidak menghasilkan apa-apa. Bukankah kita memang sering merasakan bahwa kerja tim malahan bisa jadi tidak lancar bila beranggotakan orang-orang pintar?
Dalam kesebelasan sepak bola, kumpulan para bintang bisa tidak membentuk tim yang hebat. Tim elit top manajemen perusahaan yang berisi orang-orang pintar pun seringkali punya masalah untuk bersinergi. Bukankah tim Obama juga disebut sebagai “too many brains team”, namun kerap dikritik karena lamban dalam mengambil keputusan? Bagaimana kita menyikapi dan menyiasati hal ini?

Usaha untuk memperkuat koordinasi, menebalkan kohesi serta sinergi terus-menerus kita dengar dan bicarakan. Berbagai program pelatihan, camp dan outbound dilakukan agar individu lebih bersatu dan saling memahami satu sama lain. Namun, tetap banyak yang mengeluhkan betapa sinergi tetap saja seolah tertahan dan tidak terjadi.
Tidak jarang terjadi, dalam sesi-sesi brainstorming yang dilakukan orang-orang pintar, ide-ide yang muncul seringkali terasa tertahan dan bahkan basi. Kinerja kolektif yang di atas kertas semestinya lebih baik dari rata-rata kehebatan masing-masing individu, malahan berkinerja di bawah rata-rata. Sebaliknya, ada kelompok yang anggotanya biasa-biasa saja, namun ketika membentuk tim malah bisa menghasilkan prestasi luar biasa yang bahkan membuat kejutan bagi anggotanya sendiri.
Apa rahasianya sehingga sebuah tim, apalagi tim yang terdiri atas para bintang, bisa menunjukkan kinerja kinclong dan smart? Bagaimana menumbuhkan kekuatan “collective intelligence” yang disebut-sebut bisa melipatgandakan prestasi dan menjadi faktor kunci dari keberhasilan suatu tim dan organisasi?

Kolaborasi dan peduli

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa kinerja sebuah kelompok dalam membuat tugas semacam puzzle,brainstorming, dan negosiasi, lebih baik daripada hasil kerja masing-masing individunya. Ketika diteliti lebih jauh, ternyata kekuatan yang dihasilkan oleh kelompok tidak banyak kaitannya dengan kohesi, kedekatan interpersonal, motivasi, maupun kepuasan individu, namun lebih dipengaruhi faktor care atau kepedulian. Setiap individu tidak hanya peduli pada keberhasilan tugas dan peran pribadinya, namun ingin rekannya juga berhasil. Bila kegiatan team-building dan outbound yang dilakukan baru semata mempererat kohesi, merekatkan hubungan interpersonal kelompok, namun belum menyentuh suasana hati dan ego dari masing-masing individu, kita tidak bisa berharap banyak bahwa kegiatan itu akan betul-betul bisa membawa dampak positif sekembalinya mereka ke tempat kerja.

Orang-orang yang cerdas dan berprestasi kita lihat mempunyai kemauan yang keras. Selain itu, individunya juga sangat percaya pada prinsip dan pendapatnya sendiri. Ini adalah kekuatan, namun sekaligus berpotensi menjadi sumber perpecahan dalam kelompok. Hanya bila individu menyadari kekuatan dan peran dirinya, sambil melihat kekuatan dan peran orang lain, kemudian terbuka mata dan pikirannya untuk berkolaborasi mencapai tujuan bersama, barulah bisa timbul percikan sinergi. Kuncinya adalah kesadaran bahwa tidak ada anggota tim yang bisa sukses tanpa memastikan kesuksesan orang lain. Jadi tugas kita adalah membuat orang lain bisa melakukan perannya dengan baik dan membuat orang lain terlihat baik, bukan malah menjatuhkannya. Ini tentu keyakinan yang perlu dibangun dengan fokus pada tujuan bersama dan keberhasilan bersama.

Terobos dinding ego
Dalam suatu perusahaan, individu-individu yang berkinerja bagus dipromosikan menjadi direksi. Di luar dugaan, tim yang tadinya solid ini malahan tiba-tiba tidak menghasilkan kinerja yang cemerlang lagi. Walaupun tidak berkonflik terbuka, terasa hubungan menjadi dingin dan setiap individu terkesan tetap bersikeras dengan gaya dan keahlian masing-masing. Suasana terasa hambar, bahkan enggan berkomunikasi satu sama lain. Ketika tim menemui jalan buntu dan akhirnya masing-masing berkesempatan membuka hati, barulah hubungan mencair dan komunikasi menjadi lebih tulus untuk bersatu dan menolong satu sama lain. Ternyata, individu yang berprestasi pun perlu juga digelitik kepekaan sosialnya, sehingga kembali bisa melihat lebih obyektif dan lebih mampu mendengar lebih aktif.

Teman saya berkomentar, “Orang-orang pintar, biasanya egonya juga sama-sama kuat.” Benarkah ini? Kita memang kerap melihat bahwa kerasnya ego individu bahkan mewarnai berbagai konflik skala nasional yang disorot media, entah itu kisruh PSSI, perseteruan anggota dewan yang terhormat, atau juga di jajaran kabinet. Bisa jadi, karena ego pribadi masih mendominasi, collective intelligence jadi sulit terwujud.
Dari sinilah kita bisa melihat bahwa individu yang inteligen belum tentu bisa membangun inteligensi kolektif. Individu yang mampu menumbuhkan inteligensi kolektif biasanya menjaga kepekaannya, banyak memperhatikan kebutuhan orang lain, berusaha tidak mendominasi pembicaraan walaupun sebenarnya ahli dalam topik pembicaraannya, sambil benar-benar mendekatkan hatinya dengan tim.

Dengan individu-individu yang berprestasi, dialog satu sama lain sangat penting, baik itu formal dan informal. Perlu ada keterbukaan yang tulus. Kita bisa membicarakan tugas atau proyek tertentu, tetapi spirit untuk menjaga kebersamaan perlu berakar di dasar kepribadian individu. Kita tidak bisa lagi memandang aspek emosional sebagai aspek penghambat prestasi. Justru pada orang yang sudah berprestasi, aspek emosilah yang mempengaruhi mental dan spiritnya. Itulah sebabnya pemimpin dari kelompok berprestasi ini selalu menggunakan pendekatan kembar, yaitu tugas dan hubungan interpersonal. Hanya melalui pendekatan yang dalam inilah trust bisa dikembangkan, berdampingan dengan good-will organisasi.
Read the rest of this entry »

Sering Gagal Mendapat Klien


"Kurang lebih sudah 1,5 tahun saya bekerja sebagai marketing iklan atau AE (Account Executive). Selama itu pula, saya sudah bekerja di tiga perusahaan yang berbeda. Selama menjalankan profesi ini prestasi kerja saya kurang bagus. Ini terlihat dari seringnya saya gagal dalam mencapai target penjualan. Padahal, sebenarnya saya menikmati pekerjaan ini. Namun, entah mengapa saya sering gagal dalam mencapai "closing" dengan klien. Mohon sarannya agar karier saya di bidang ini bisa maju." (Rere, Jakarta)
Sebagai langkah awal, menurut Donna Turner, praktisi Sumber Daya Manusia di EXPERD, Anda perlu melakukan evaluasi kinerja pada diri Anda.

1. Evaluasi tingkat kedisiplinan
Disiplin yang dimaksud, bagaimana kepatuhan Anda pada sikap dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten untuk mempertahankan kinerja yang baik dan mencapai target kerja. Sudahkah Anda disiplin dalam mencapai target penjualan? Apakah kebiasaan-kebiasaan baik ini sudah Anda lakukan secara konsisten?
Misalnya, tugas AE antara lain meyakinkan klien/prospek mengenai produk dan jasa yang ditawarkan. Untuk dapat meyakinkan klien, dibutuhkan pemahaman produk dan jasa secara lengkap. Sudahkah Anda menuntaskan "PR" untuk memelajarinya, sehingga yakin dengan "jualan" Anda? Apakah Anda mengenali persis apa saja kelebihan dan kelemahan produk Anda dibanding produk lain serupa? Apakah harga yang ditawarkan layak dan kompetitif?
Dengan memelajari aspek ini secara konsisten, Anda dapat mengantisipasi dan memprediksi alasan klien menaruh minat atau keberatan pada tawaran Anda. Dengan begitu, Anda dapat segera mengambil langkah tepat.
Disiplin lain adalah melakukan pemetaan dan identifikasi pada karakteristik prospek/klien. Seberapa jauh Anda sudah mengerjakan PR ini sebelum bertemu klien? Sudahkah Anda mengidentifikasi, kira-kira berapa budget mereka? Hal ini akan membantu Anda dalam menawarkan produk yang kurang lebih setara dengan budget mereka.

2. Evaluasi kemampuan pribadi
Apakah secara kuantitas dan kualitas mendukung untuk mampu menggiring Anda sukses mencapai closing? Sebagai contoh, sudah pernahkah Anda mengikuti pelatihan selling technique? Sudahkah meningkatkan keterampilan ini? Bagaimana kemampuan komunikasi? Apakah Anda pendengar yang baik atau pembicara yang efektif? Sudahkah berlatih mengenal ragam penolakan klien dan menyikapi penolakan itu secara strategis? Keterampilan-keterampilan ini dapat terus dilatih dan dikembangkan. Dengan begitu, kepekaan dan keefektifan Anda memahami dan melakukan selling akan semakin terasah.
Keterampilan lain yang juga mutlak dimiliki AE adalah customer care. Ini merupakan proses pemberian servis secara kompetitif dan bermanfaat pada customer/klien, demi memaksimalkan nilai produk atau jasa yang Anda tawarkan pada mereka. Klien tentu akan merasa senang dengan servis yang baik dari pihak AE. Bukan sekadar penampilan menarik, namun juga sopan santun, dan cekatan.
Hal-hal seperti ini sangat menunjang keberhasilan melakukan closing dengan klien, mengingat tipe dan gaya komunikasi klien juga sangat beragam. Sesuaikan dengan gaya mereka, bila ingin memenangkan hati mereka, dalam koridor profesional tentu.

3. Evaluasi kerja Anda
Ini dapat dilihat seberapa jauh Anda sudah menerapkan perilaku inovatif dan spontan di luar persyaratan tugas formal untuk meningkatkan efektivitas pekerjaan. Kreativitas juga menjadi kunci utama dalam menawarkan iklan, misalnya dalam kasus Anda sudah tidak terlalu efektif lagi bila menawarkan diskon pada klien, maka tidak menutup kemungkinan Anda bisa menawarkan program yang terintegrasi pada klien.
Aktiflah berkonsultasi dan berkomunikasi dengan atasan. Klarifikasi seberapa besar Anda diberi keleluasaan menjaga margin, seberapa besar diskon bisa diberikan, serta bonus bisa dikeluarkan pada klien. Klarifikasi sampai level apa dan seberapa jauh keleluasaan dan kepercayaan diberikan perusahaan kepada Anda. Bina team work dan kolaborasi yang baik dengan tim kreatif di perusahaan untuk mengoptimalkan penjualan Anda.
Read the rest of this entry »

Tumbuhkan Budaya Apresiatif pada Karyawan


Pernahkah kita memperhatikan bahwa publikasi di media lebih didominasi berita menakutkan, mengerikan, penuh bencana dibanding dengan hal-hal terpuji yang dilakukan oleh seseorang? Berita penghargaan, keberhasilan, kerja keras tidak terdengar karena dikalahkan oleh berita kecurangan, kelemahan, dan kemalasan. Meskipun kita sendiri sering merasa lelah, kesal, sedih, bahkan marah setelah mendengar hal-hal negatif, namun di sisi lain kita pun tidak secara sengaja menghindari hal-hal yang negatif. Bukankah kita pun menikmati berita daninfotainment yang cenderung menonjolkan kejelekan individu? Di tempat kerja pun sadar tidak sadar kita kerap menyuburkan budaya yang tidak apresiatif, misalnya saja gosip, salah menyalahkan, atau tidak berterus terang.

Kita bisa menilai sendiri seberapa sering kita menyalahkan orang yang sedang tidak hadir di suatu pertemuan bila ada kejadian yang tidak menyenangkan. Bukankah banyak atasan yang hanya melihat kesalahan anak buah, dan hanya berkomunikasi dengan anak buah jika ada yang tidak beres? Di sisi lain, tak jarang atasan menganggap bahwa prestasi bagus anak buah adalah keadaan yang wajar dan sudah semestinya, sehingga tidak perlu dipuji.
Bayangkan suasana kerja bila seorang atasan cenderung mengkomplain kesalahan anak buah sementara lupa memberi komentar ketika seseorang bisa berpikir kreatif pada saat orang lain sudah menghadapi jalan buntu? Pernahkah kita benar-benar memikirkan bahayanya bila sebuah tim atau suatu lingkungan sosial, partai, perusahaan, atau bahkan negara, mempunyai pola pikir pesimis, negatif, dan tidak segar? Bisakah individu berkinerja optimal bila sering merasa tidak berdaya, tertekan, dan terus-menerus memikirkan kekurangan dan kelemahan yang ada? Bagaimana perasaan orang atau lembaga lain yang harus berhubungan dengan komunitas seperti ini?

Kita sendiri sebetulnya bisa merasakan bahwa lingkungan kerja yang menyenangkan dan saling menghargai akan memberi kekuatan, peningkatan produktivitas, laba, dan juga kepuasan karyawan dan pelanggan. Di sebuah kantor, bertegur sapa seakan sudah menjadi aturan tidak tertulis yang dilakukan oleh semua orang di semua level jabatan. Ada juga tempat kerja di mana setiap orang otomatis mengucapkan terimakasih pada kolega yang memberi bantuan, bahkan untuk hal yang kecil sekalipun.
Sikap peduli teman kerja ini tanpa disadari memiliki harga tertentu yang tidak bisa dinilai dengan uang, tetapi justru nyata-nyata meningkatkan bisnis perusahaan. Bila sikap dan tindakan ini dilakukan oleh seseorang secara konsisten, bahkan saat atasan atau pimpinannya tidak ada, maka hal ini bisa dikatakan menjadi budaya di lingkungan tersebut. Saat pimpinan dan atasan sadar akan kekuatan yang ada di balik sikap dan kebiasaan manusia, secara serius menumbuhkan kebiasaan positif dan apresiatif, maka peningkatan produktivitas kerja tentu bukan hal mustahil dicapai.

Bergulir tanpa paksaan
Dalam suatu pelatihan beberapa peserta semula tidak percaya bahwa segala sikap dan perilaku dapat ditumbuhkan dengan apresiasi. Tidak perlu kritik berlebihan atau bicara negatif. Seorang direktur perusahaan yang legendaris dan terkenal mampu membentuk budaya positif di perusahaannya, mengatakan: ”Kita hanya perlu jeli menunggu orang berbuat sesuatu yang bisa dipuji. Orang lain yang hadir otomatis akan mencari perilaku apa yang patut dan bisa diterima oleh atasannya dan berusaha melakukannya”.
Perilaku positif pun kemudian akan bergulir dengan sendirinya. Kita lihat bahwa pimpinan dan atasan memang berperan penting dalam memberi contoh dan menyuburkan budaya positif yang diinginkan. Itu sebabnya atasan perlu sadar kebiasaan apa yang ingin ditumbuhkan. Saat tingkah laku, sikap, dan suasana kerja terjadi secara otomatis tanpa paksaan atau aturan, kita akan bisa melihat budaya organisasi itu sudah merupakan aset lingkungan sosial tersebut.

Di Southwest Airlines, satu-satunya airline yang bertahan pada waktu krisis, manajemen memang secara sengaja mengembangkan kebiasaan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang apresiatif. Mereka tidak secara berlebihan menganalisa kekurangan, kelemahan, dan kondisi krisis yang menekan, namun dalam rapat-rapat di perusahaan, mereka berfokus pada pertanyaan: “What works, what matters, what adds value, what makes a difference?”
Dengan pendekatan ini, perusahaan memperoleh tambahan energi yang luar biasa. Karyawan menjadi lebih mudah mengombinasikan berbagai kekuatan yang dimiliki. Karyawan pun bisa lebih mudah merealisasikan sikap yang berfokus pada pelanggan, setia kawan dalam membantu rekan, bahkan juga kreativitas untuk menemukan proses bisnis yang lebih efisien.

Memilih untuk menghidupkan semangat

Bayangkan bila seorang atasan membuat pernyataan ini: ”Pekerjaan kita membuat kita berkesempatan untuk memperluas wawasan dan belajar dari yang mengalami kesuksesan”. Bandingkan dengan pimpinan yang berulang kali mengatakan hal ini: ”Persaingan sudah demikian ketat, namun kita masih bisa bertahan”. Pernyataan pertama merangsang naluri kehidupan, sementara pernyataan selanjutnya lebih dekat pada kegagalan dan mematikan semangat.
Kita bisa melihat bahwa cara bicara kita sangat menentukan arah spirit orang di sekitar kita. Tidak pelak lagi, kita memang perlu mengembangkan budaya apresiatif di lingkungan kita. Kita bisa mulai dengan memikirkan perilaku atau situasi apa yang pantas mendapat pujian dan apresiasi. Kita pun perlu bisa menggambarkan poin terpenting dari sikap atau perilaku tersebut dan bagaimana perilaku tersebut menguntungkan perusahaan.
Hal-hal inilah yang kita kemas sehingga bisa berpengaruh di rapat atau di pertemuan lain dan memungkinkan semua orang membayangkan kesuksesan. Kata-kata positif, seperti bangga dan happy perlu diikutsertakan untuk membangkitkan energi. Bila hal ini dilakukan dengan jitu dalam dialog-dialog yang kontinu dan dianggap sebagai suatu entitas yang hidup, budaya akan bersinergi dengan inovasi dan tumbuhnya bisnis. 
Read the rest of this entry »

5 Profesi yang Berpeluang Keliling Dunia


Sirik dengan teman-teman yang bisa keliling dunia karena profesinya? Memangnya, profesi apa saja sih yang bisa memberi kesempatan pada kita untuk mengunjungi negara-negara lain, selain menjadi pramugari?
Ternyata, ada banyak pilihan profesi yang bisa membawa kita jalan-jalan ke luar negeri, dan dibayar pula. Inilah lima di antaranya.

LSM asing. Tertarik untuk melakukan misi sosial, tak ada salahnya untuk bergabung dengan Non Govermental Organization (NGO). LSM asing yang dipegang langsung oleh lembaga internasional yang telah memiliki kantor cabang dan badan hukum di Indonesia ini memberikan Anda kesempatan untuk menjalankan program yang telah mereka buat untuk beberapa wilayah di Indonesia, di samping memberikan kesempatan untuk bertemu dan merencanakan misi dengan tim dari negara lain di kantor pusat, atau tempat yang telah d tentukan dan biasanya di luar negeri.
Misi sosial yang dijalankan seputar pendidikan, anak-anak, lingkungan, atau kesehatan. NGO tersebut antara lain; WWF (Worldwide Fund for Nature), Ecpat, World Vision International, Save The Children, dan lainnya. Ada juga lembaga bantuan internasional seperti UNICEF, UNESCO, atau ILO. Untuk standar gaji, biasanya mereka menggunakan hitungan dollar. Anda dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, di samping kualifikasi lain yang harus dipenuhi. Keliling Indonesia dan pergi ke luar negeri, why not?

Kedutaan besar
. Tak begitu menyukai kegiatan outdoor yang dilakukan para aktivis NGO, namun ingin bergabung dengan lembaga asing? Segera kirimkan lamaran ke kedutaan besar negara tetangga. Anda akan bekerja layaknya pegawai kantoran biasa. Posisi yang ditawarkan pun beragam. Bedanya, informasi lowongan kerja biasanya tak dipublikasikan secara luas. Datang atau menanyakan informasi langsung pada lembaga terkait merupakan langkah tepat.
Satu hal yang menjadi syarat penting ialah calon karyawan dituntut mampu berkomunikasi dengan pemerintah negara terkait, misalnya Pemerintah Amerika bila bekerja di Kedutaan Besar Amerika. Dalam hal ini, kemampuan bahasa Inggris atau pun bahasa asing lain sangat diperlukan, tergantung kebutuhan. Menariknya, karyawan akan mendapat fasilitas untuk berkunjung ke negara tersebut setidaknya satu tahun sekali, gaji pun dalam hitungan dollar. Biar lebih mudah diterima, Anda bisa kok memulainya dengan magang.

Pengajar bahasa asing. Memiliki kemampuan bahasa asing yang oke, manfaatkanlah untuk mengajar. Jadi dosen atau pengajar di lembaga bahasa asing, misalnya. Apalagi bagi Anda lulusan fakultas sastra Mandarin, Inggris, Jerman, dan lainnya. Kesempatan untuk mengikuti ajang pertukaran budaya dengan negara terkait sangatlah mungkin, termasuk mendapat beasiswa.
"Yang menarik dari profesi ini ialah kenal banyak orang dan bisa membantu murid untuk mengerti Bahasa Mandarin. Tak monoton di kantor, jadi sering jalan-jalan, baik ke China atau Taiwan. Saya kan juga mengajar di universitas, jadi sering ada kunjungan dengan dekan atau rektor ke negara-negara itu. Untuk gaji, semakin banyak job semakin banyak pendapatan. Semua kita sendiri yang mengatur, ingin dapat besar, carilah pekerjaan lebih banyak, bisa jadi guru privat dan dosen," demikian menurut Ayu Trihardini, 29, pengajar bahasa Mandarin.

Tour leader. Menggunakan jasa agen wisata bukanlah hal yang asing lagi. Beragam paket dengan harga bersaing membuat jumlah pengguna jasa ini semakin meningkat. Selain harga, agen wisata juga menawarkan kemudahan dan keamanan khususnya selama berada di luar negeri. Selama perjalanan, Anda juga akan ditemani oleh pemandu wisata atau tourguide yang siap memberikan informasi seputar tempat wisata. Eh, asyik juga ya jadi tourguide, bisa jalan-jalan dan dibayar pula. Tertarik?
Selain kemampuan komunikasi yang baik, seorang tourguide juga dituntut memiliki kesabaran tinggi. Sebab, berbagai macam tamu dengan berbagai karakter berbeda harus mampu Anda taklukkan. Anda juga harus siap dengan jam kerja yang tidak biasa, jauh dari jam kantor yang 9 to 5.

Chef. Bila Anda gemar memasak, ada kesempatan untuk mengikuti sekolah koki profesional dan menjadi chef. Biasanya sebuah culinary institute menawarkan berbagai jurusan, seperti patiseri, pariwisata, dan perhotelan.
Tak hanya skill, profesi ini juga membutuhkan passion yang tinggi. Semakin Anda
lihai membuat makanan enak, maka semakin mulus jenjang kariernya. Kesempatan ke luar negeri pun terbuka lebar bila Anda meniti karier di hotel bertaraf internasional atau kedutaan besar.
"Setelah lima tahun menjadi koki, saya menawarkan diri untuk menjadi koki di kedutaan besar Indonesia di Swiss dan diterima. Sangat bersyukur. Tiga tahun setelah itu, akhirnya saya
mencoba peruntungan untuk bekerja di salah satu hotel di sana," ujar Fitri, seorang chef berusia 38 tahun.
Read the rest of this entry »

Jabatan Bukan Ukuran Prestasi Kerja?

Berprestasi dalam dunia kerja bukan sekadar dilihat dari jabatan yang dimiliki atau lama waktu bekerja di sebuah perusahaan besar dan mapan. Seorang profesional dikatakan berprestasi jika ia mampu memberikan kontribusi dan dampak positif bagi dirinya, orang lain di lingkungan kerjanya, maupun perusahaan itu sendiri.

Meski memang, ketika seorang perempuan memiliki jabatan tinggi di sebuah perusahaan, ia akan memiliki pengaruh besar, dan bisa memberikan kontribusi lebih maksimal. Namun kembali lagi, ukuran prestasi bukan pada jenjang karier yang berhasil dilaluinya, tetapi bagaimana ia memberi manfaat optimal pada jabatan, untuk memberdayakan orang lain, bukan sekadar dirinya.

Perspektif inilah yang melatari pemilihan sembilan perempuan profesional, pemenang Young Caring Professional Award (YCPA) diadakan oleh Caring Colours Martha Tilaar. YCPA yang memasuki tahun kedua pada 2011 ini, memilih sembilan pemenang dari berbagai latar belakang profesi dan keahlian. Sembilan perempuan ini dinilai layak menjadi sumber inspirasi bagi perempuan lain, karena prestasi dan pemahaman dirinya, dan pengaruh positif yang ditularkannya dalam memberdayakan orang lain, terutamanya kaum perempuan.

"Perempuan profesional dengan berbagai bidang kerja atau kariernya ini dipilih bukan hanya karena pemahaman dirinya yang positif dan inspiratif. Namun mereka juga dipilih atas dasar dampak positif yang mereka berikan kepada dirinya dan orang lain, dari prestasinya. Prestasi dalam karier bukan dilihat dari jenjang karier atau konsistensinya menjalani karier. Namun lebih kepada konsistensi untuk memberikan dampak perubahan positif kepada dirinya dan orang lain," jelas Rene Suhardono, CareerCoach.

Yoris Sebastian, salah satu juri YCPA menambahkan, sembilan perempuan dengan rentan usia berbeda ini terbukti memberikan dampak perubahan positif bagi dirinya, perusahaan, dan orang banyak.

Prestasi seperti inilah yang semestinya dimiliki kaum hawa, dalam menjalani kariernya. Boleh saja mengejar karier, menapaki jenjang karier setinggi-tingginya karena toh memang perempuan punya kompetensi. Namun sejatinya, nilai prestasi perempuan berkarier lebih kepada sejauhmana ia bisa memberdayakan dirinya, rekan kerja, orang lain, dan memberikan dampak positif pada perusahaan tempatnya bekerja.
Read the rest of this entry »

Cara Mudah Fresh Graduate Mendapat Pekerjaan

Tidak usah bingung untuk Anda para fresh graduates yang sedang berburu kerja. Ada 3 cara yang membuat fresh graduate terlihat menarik:
Fun. Berburu kerja harus menjadi sesuatu yang menyenangkan, tentunya dengan harapan mendapat pekerjaan yang juga membuat kita bahagia. Buat brain mapping untuk menelusuri apa sebetulnya pekerjaan idaman Anda.
Fearless. Buatlah CV based on competency. Jadi ketika dibawa oleh HRD, walaupun belum ada pengalaman kerja, ada sebuah nilai plus yang bisa “dijual”. Mintalah surat referensi dari dosen jika memang dibutuhkan.
Fabulous. Ketika akhirnya Anda dipanggil untuk wawancara, do it in a fab way! Persiapkan diri dengan baik, jawab dengan baik dan jujur. Jangan sampai kompetensi yang ada jadi tidak bernilai karena ada jawaban atau perkataan yang kurang pantas atau Anda dalam keadaan setengah sadar setelah party semalaman.
Read the rest of this entry »

Kesalahan Umum Saat Mulai Berkarier

Ya, Anda adalah orang baru dalam perusahaan, sehingga tentu saja sudah sepantasnya Anda memiliki sikap bersahabat dengan atasan. Tetapi ada satu hal yang harus tetap Anda ingat: jangan pernah memperlakukan atasan Anda sama seperti seorang teman, apalagi jika dia berusia di atas 40 tahun. Ada batasan yang harus Anda jaga, teman. Ini penting mengingat tindakan tidak profesional dapat menghambat perkembangan karier Anda. Berikut adalah beberapa kesalahan yang biasanya dilakukan oleh mereka yang baru mulai bekerja.

Etika Mengirim Email 
Lisa Orrell, penulis dari Millennials Incorporated mengatakan bahwa dua komplain utama dari para manajer adalah pekerja dalam usia muda terlalu lambat dalam merespon email, serta menggunakan kata-kata yang terlalu singkat atau penyampaian kalimat yang tidak sempurna. Hmmm, coba mulai untuk membuat isi email Anda dengan detail. “Tujukan surat dengan menggunakan nama depan orang tersebut. Gunakan tanda koma saat menulis kalimat yang panjang, serta akhiri dengan 'Best',“ tutur Heather Huhman, pendiri comerecommended.com.

Gunakan Bahasa Informal
Oke, saat berpapasan dengan bos Anda, tentunya Anda akan menyapa. Tapi berhati-hatilah untuk tidak kelepasan berbicara dengan nada yang tidak wajar dan childish. “Dalam menulis memo, Anda harus tetap memperhatikan bahasa formal seperti 'Tadi ada telepon dari suami Anda' daripada 'Hei, tadi hubby Anda telepon' Dan jangan lupa untuk mengeleminasi semua emoticon dan akronim dari semua surat kerja Anda,” kata Orrell. Semua ini menjadi penting karena posisi senior dalam sebuah perusahaan berkaitan erat dengan kedewasaan pribadi yang tercermin dari tata bahasa Anda.

Tidak Menjaga Profesionalitas

“Atasan ingin Anda untuk berbicara secara resmi.” ujar Huhman. Jadi hindari penggunaan nick name. Dan sebisa mungkin hindari untuk mengirimkan dia pesan yang berkaitan dengan masalah pribadi, bahkan di saat Anda dan bos merupakan tipe orang yang sangat terbuka. Hubungi bos Anda hanya saat berkaitan dengan perkerjaan dan penting. Hal tersebut penting agar Anda tetap terlihat profesional, lho. Jangan sampai masalah pribadi Anda terbawa dalam perkerjaan.
Read the rest of this entry »

Hindari Makan Siang di Meja Kerja

Anda pikir bahwa Anda melakukan hal yang benar dengan memakan ayam goreng sambil berkerja saat jam makan siang? Ternyata hasil studi menunjukkan bahwa makan di meja kerja lebih banyak merugikan Anda daripada keuntungan yang didapat, lho.

Isu Kebersihan
Makan siang di saat hari yang sibuk sambil menyelesaikan perkerjaan, sekilas terlihat sebagai penyelamat Anda untuk menghemat waktu. Sebuah penelitian oleh Royal Society of Chemistry menunjukkan makan di meja kerja Anda dapat berisiko serius bagi kesehatan Anda. Kenapa? Karena saat Anda sudah pulang dari kantor, di malam hari kemungkinan besar mengundang tikus-tikus pembawa penyakit keluar untuk bermain di meja Anda tanpa sepengetahuan Anda. Ouch!

Masalah Pencernaan
Nutritionist Fiona Workman, dari Sydney Nutrition, mengatakan bahwa saat Anda berkerja dalam keadaan stress, maka pola makan Anda bisa tidak terjaga sehingga membuat Anda makan lebih banyak daripada biasanya. Gawat bukan! Makan di meja kerja juga membuat Anda lebih kembung karena gravitasi tidak membantu Anda untuk menurunkan makanan. Tip dari Workman? Tinggalkan meja kerja Anda dan temukan tempat yang tenang di taman, kafe ataufoodcourt. Makanlah perlahan. “ Membutuhkan waktu 20 menit untuk hormoncholecystokinin membuat Anda berkata, 'I'm full',” jawab Workman.

Berat Badan
Duduk seharian dapat membuat metabolisme tubuh Anda turun, kata Sue Radd, Kepala Nutrition dan klinik Wellbeing. Menurut Radd, duduk terlalu lama berhubungan erat dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan juga penyakit jantung. Sarannya? Berjalan-jalanlah , walaupun hanya 20 menit. So, dengan semua risiko tersebut, masih memutuskan untuk Makan siang di meja kantor Anda?
Read the rest of this entry »

Pergunakan 5 Menit Waktu Anda Untuk Peningkatan Karir

Sesibuk apakah Anda hari ini? Menghadiri rapat, bertemu klien, menyelesaikan tugas rutin, membuat laporan proyek, dan banyak lagi pekerjaan menunggu Anda menyelesaikannya. Di akhir hari, mungkin kita kelelahan. Betapapun letihnya, ada baiknya Anda luangkan lima menit untuk merenungkan hari Anda sebelum pulang ke rumah. Jeda lima menit sangat singkat dibandingkan dengan jam-jam yang Anda habiskan untuk berbagai aktivitas lain.
Usahakan Anda tidak terganggu oleh dering telepon, atau apapun. Di saat seperti itu, Anda bisa mengajukan pertanyaan seperti, “Apa saja pekerjaan yang berhasil saya selesaikan hari ini, dan apa yang gagal?”
Anda pun dapat bertanya, “Dengan siapa saja saya berbicara hari ini, seberapa besar manfaat yang saya peroleh dari pembicaraan itu?” “Apakah saya berbagi gagasan yang cemerlang?” “Apakah saya mendapatkan umpan-balik yang bagus bagi kinerja saya?”
Anda juga perlu bertanya, “Pelajaran apa yang saya petik hari ini? Dari diri saya sendiri, dari orang lain? Apa rencana saya esok hari? Apakah yang saya kerjakan menunjang peningkatan karier saya?”
Entah kita menyadarinya atau tidak, kita kerap menghabiskan waktu berpuluh jam untuk menyelesaikan satu tugas atau berjam-jam untuk satu pekerjaan. Maraton lima hari dalam sepekan. Namun kita jarang meluangkan waktu, katakanlah lima menit saja, untuk menjadi “pengamat” atas apa yang kita kerjakan dan bagaimana kita berperilaku pada hari-hari itu. Sebagai ketua tim, sudahkah kita menyapa anggota hari ini? Apakah kita sudah sempat mengirim e-mail ucapan terima kasih atas masukan bawahan? Jika kita lupa, kinilah saatnya melakukan hal itu.
Ketika berbicara langsung tadi siang, mungkin kita tak sanggup menyerap umpan balik kawan sekerja dengan serta merta. Mungkin kita agak emosional mendengarnya lantaran ketegangan kerja sedang meningkat. Nah, waktu lima menit yang Anda sisihkan membukakan jendela bagi Anda untuk melihat sisi-sisi positif dari masukan teman, atasan, atau bawahan. “Ternyata betul apa yang ia katakan,” ucap Anda kali ini dengan jujur.
Sebuah perusahaan boleh dibilang berhasil apabila, salah satunya, mampu mengajari karyawannya bagaimana menjadi pembelajar yang baik sepanjang hidup. Tidak harus di dalam ruang kelas workshop, atau ruang rapat, tapi ia bisa belajar di meja kerjanya sendiri. Belajar dari kegagalan, dari keberhasilan, dari interaksinya dengan orang lain; sebab, tak ada pekerjaan yang sanggup diselesaikan seorang diri di zaman sekarang.
Membiasakan diri untuk mengambil jeda lima menit untuk bertindak sebagai pengamat sungguh membantu kita dalam memperbaiki kinerja. Mula-mula kinerja diri sendiri, lalu tim, dan kemudian berimbas pada karier pribadi maupun kinerja perusahaan. Di tengah kesibukan kita bekerja begitu keras, bergerak demikian cepat, jeda lima menit dari keriuhan niscaya sangat berguna. Jadi, manfaatkan betul lima menit Anda yang berharga, setiap hari.
Read the rest of this entry »

Belajar Mendengarkan Mampu Meningkatkan Karir

Begitu keluar dari ruang rapat, kita mungkin lupa akan satu-dua keputusan yang diambil dalam rapat itu. Sebagai staf, mungkin kita merasa bahwa tugas kita adalah mengikuti rapat dan mendengar apa yang dibicarakan atasan. Sebagai pimpinan (bagian, departemen, divisi, atau perusahaan), kita keluar dari ruang rapat besar mungkin juga sudah tak ingat apa yang dikeluhkan staf. Apa yang disampaikan bawahan masuk telinga kiri, keluar telinga kanan.
Salah satu kemungkinan mengapa karyawan lupa ialah karena merasa dirinya tidak terlibat (engaged) di dalam persoalan-persoalan yang dihadapi perusahaan. Saat bekerja, ia merasa cukup bila sudah menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya sesuai diskripsi pekerjaan. Ia tidak terdorong untuk memberi kontribusi lebih jauh, apa lagi memberi yang terbaik bagi perusahaan. Di dalam rapat, ia hanya “mendengar”, dan bukan “mendengarkan”.
Dengan “mendengar”, siapapun yang hadir dalam rapat akan menerima gelombang suara orang yang berbicara. Tapi, materi yang disampaikan tidak dicerna. Dengan “mendengarkan”, seseorang secara aktif menerima gelombang suara pembicara dan mencerna maknanya. Sikap seperti ini akan membuatnya tidak gampang lupa. Dan, yang mesti bersikap seperti ini bukan hanya bawahan, staf, tapi juga manajer dan eksekutif. Di ruang rapat maupun di luar ruang rapat.
Bagi banyak orang, tindakan mendengarkan secara aktif barangkali membosankan, walaupun banyak orang juga enggan berbicara dan menyampaikan pikirannya. Namun banyak ahli manajemen dan komunikasi yang meyakini bahwa inilah kunci untuk memahami orang lain. Dengan mendengarkan secara aktif, kita berusaha berempati pada yang berbicara, mencoba memahami apa yang dikatakan. Orang yang berbicara pun merasa lebih dihargai. Ada yang menyebut ini sebagai “mendengarkan dengan empati”.
Sebagai kunci untuk memahami orang lain, mendengarkan pandangan teman satu tim kerja menjadi penting. Kesalahpahaman dapat dikurangi. Masing-masing anggota tim akan mengerti kekurangan dan kekuatan masing-masing, untuk kemudian saling mengisi. Dari sinilah kerja sama tim mulai terbentuk. Dan bila kimiawi sesama anggota tim sudah melebur, kerja sama tim akan menjadi kekuatan yang hebat.
Kemampuan “mendengarkan” dengan empati menjadi kian krusial bila tim terdiri atas orang-orang yang berbeda latar belakang: entah suku (atau malah bangsa), pendidikan, atau pun pengalaman kerja. Keragaman orang di dalam satu tim bisa memperkaya sudut pandang dalam melihat persoalan. Namun di sisi lain, harus ada upaya yang lebih kuat untuk membangun kimiawi tim dan memulainya dengan membangun kemauan untuk mendengarkan. Sebab, latar belakang akan mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi.
Anggota tim yang terbiasa berbicara banyak mesti berusaha mengerem lidahnya. Anggota tim yang sering kali diam (tapi mungkin penuh uneg-uneg) lebih baik berusaha mengungkapkan pikirannya. Kalau saya tidak salah, perusahaan consumer goods Protect & Gamble mengembangkan program pelatihan yang disebut “Cultures at Work”. Dalam program ini, karyawan belajar perihal “high context cultures”, yakni budaya yang sangat verbal dan orang-orangnya berbicara sangat terbuka. Mereka juga mempelajari “low context cultures”, seperti yang ditemui di Asia. Tentu saja, stereotyping ini tidak sepenuhnya tepat, karena Asia pun beragam, tapi intinya perusahaan ingin mengajak karyawan dan manajer untuk menjadi pendengar yang peka, apa lagi bekerja di dalam perusahaan yang karyawannya multikultural.
Bagi siapapun yang bekerja bersama di dalam sebuah tim kecil maupun tim besar (skala perusahaan), mendengarkan dengan empati merupakan ketrampilan yang semakin penting untuk dipelajari. Baik oleh karyawan, maupun manajer, eksekutif, dan pemilik saham. 
Read the rest of this entry »

Hobi Dapat Menjadi Bisnis Beromzet Puluhan Juta

Jangan abaikan hubungan pertemanan. Karena hubungan itulah, Andree bisa mengeruk pundi-pundi rupiah. Melalui jaringan pertemanan dan hobi memotretnya membuat sinergi dua hal itu menjadikan bisnis memotretnya berkembang.

Berawal memiliki hobi serupa, Andree membuka studio foto kecil-kecilan di sebuah ruko milik temannya, yang berlokasi di kawasan Depok pada enam tahun silam. Usaha kecil-kecilan, yang bermodal minim hanya berupa kamera foto tersebut dijalani bersamaan dengan profesinya sebagai jurnalis.

Ternyata hobinya adalah dunianya. Usaha fotografinya, yang diawali dengan hobi memotret, sejak lama membuat penyuka masakan pedas ini memilih untuk berhenti dari profesi jurnalis di salah satu media nasional di Tanah Air.

Sempat malang-melintang di dunia tulis-menulis tersebut tidak membuat dirinya berhenti dari kesukaannya memotret. Pria ramah ini meski mengantongi gelar sarjana komunikasi, namun akhirnya memutuskan diri untuk berhenti dari profesinya sebagai jurnalis pada 2008 lalu.

Kemudian, Andree mulai menekuni usaha fotografi kecil-kecilannya tersebut secara serius bersama seorang temannya. Pada tahun yang sama, Andree bersama temannya mengembangkan jasatidak hanya foto, namun mulai bertambah dengan hadirnya video syuting.

Menurut dia, porsi jasa yang diminati antara foto dan video syuting berimbang. Adapun jasa yang diberikan berupa foto buku tahunan atau kegiatan kampus dan perusahaan. Selain itu, syuting wedding (pernikahan), dokumentasi kegiatan atau profil perusahaan dan pemerintah.

Hingga saat ini, sejumlah pesanan (order) dari pemerintah maupun perusahaan swasta pernah diterimanya. Pada 2005 lalu, dia pernah mendapat order syuting dokumentasi di Papua dari salah satu kementerian. Di samping itu, juga menjadi langganan foto maupun video syuting oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, pernah membuat dokumentasi laboratorium Universitas Indonesia (UI) dan sejumlah perusahaan.


Yang penting juga disiapkan  adalah  corporate identity  yang baik sehingga hobi anda terlihat sebagai bisnis yang profesional.

Menurut dia, bisnisnya berkembang karena jaringan pertemanan. Pemasaran yang dilakukannya selama ini hanya dari mulut ke mulut atau berbagi order kepada sesama teman. “Kadang kalau teman kebanyakan order di-sharing ke kita, begitu juga sebaliknya,” katanya.

Dengan keseriusan menekuni hobinya tersebut, Andree bersama temannya sudah memiliki dua studio foto. Satu studio, yang berlokasi di Depok diberi nama Hijau Entertainment. Studio ini dikelola dirinya, sedangkan satu studio bernama Alvan Galeri berlokasi di Srengseng Sawah dikelola temannya, yang dulu bersamanya merintis bisnis ini.

Untuk studio di Srengseng Sawah, kebanyakan pelanggannya adalah sekolah-sekolah, di kawasan Depok dan Jakarta Selatan, seperti taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas(SMA),untuk pembuatan buku tahunan atau pas foto.

Sementara studio di Depok, pelanggannya lebih banyak perusahaan dan pemerintah. Pria yang menjadi fotografer pribadi Wali Kota Depok sejak tiga tahun lalu ini mengungkapkan, studio fotonya yang sebelumnya hanya dijalani oleh dua orang, saat ini sudah memiliki tim yang berjumlah 13 orang, terdiri atas fotografer, kamerawan, kru, desain grafis, dan video editor.

Adapun omzet kotor yang diperolehnya dalam tiga bulan pertama tahun ini berkisar antara Rp30 juta–Rp68 juta per bulannya. Untuk video syuting, diakuinya pernah memperoleh order Rp10 juta, Rp67 juta dan terbesar mencapai Rp88 juta.

Menurut dia, sebagian besar order yang diperolehnya berasal dari order di Depok mencapai 75 persen dan sisanya sekira 25 persen berasal dari order di Jakarta.

Kendati demikian, ada waktu-waktu tertentu order foto maupun video syuting yang digelutinya tidak terlalu ramai, seperti terjadi pada bulan puasa. Untuk menyiasatinya, dia bersama tim berpikir kreatif menggarap lahan lain, misalnya video syuting dokumentasi buka puasa atau sahur.

Hal ini terbukti membuahkan hasil dan dia bersama tim bisa menikmati indahnya Idul Fitri. Sementara, kendala yang dihadapi saat menjalani bisnis ini adalah ketika alat error, sehingga diperlukan alat cadangan. Adapun alat-alat yang dibutuhkan untuk berkecimpung di bisnis ini, di antaranya kamera foto, kamera video, blitz, lighting, background maupun tripod.

Andree bersyukur pilihan untuk berhenti dari dunia jurnalis dan beralih ke hobinya tersebut membuahkah hasil positif, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga orang lain. Hasil yang diperoleh dari bisnis ini dialokasikan untuk investasi perlengkapan alat dan tabungan.

Bisnis ini yang sampai sekarang menghidupkan aku dan teman-teman. Dari bisnis ini bisa menghidupkan keluarga,” imbuh dia.

Ke depan, dia berencana melakukan ekspansi dengan membuka sekira 1-2 studio baru di kawasan Depok lantaran peluangnya cukup besar. Dua lokasi yang diliriknya, satu di daerah Sawangan dan satunya di Cimanggis. Dia berharap, studio yang dimilikinya bisa jalan tanpa campur tangan dari penggagas, kecuali mendapat order besar atau hal lain yang memang memerlukan bantuan.

Contohnya saat ini, dia bersama teman melakukan kerja sama dengan rumah sakit (RS) swasta di Depok terkait foto bayi. Bisnis foto bayi ini sudah berjalan sekira enam bulan dan dia masih melakukan evaluasi terkait rencana mengembangkan bisnis foto ini ke depan.

Selain foto bayi, dia juga merambah ke bisnis cetakan, seperti membuat buletin, buku tahunan, maupun undangan. Bahkan pada awal tahun ini, dia sempat mendapat order dari salah satu majalah selama tiga bulan untuk mencetak sekira 5.000 eksemplar per bulan.
Read the rest of this entry »

Alasan Utama Ketidakpuasan Karyawan Perempuan

Sebuah perusahaan konsultan manajemen melakukan survei global terhadap tingkat kepuasan kerja bagi lelaki dan perempuan. Hasil studi antara lain menunjukkan, sebanyak 47 persen karyawan perempuan merasa tidak puas terhadap gaji yang diberikan. 

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 3.400 profesional di 29 negara, ditemukan bahwa kurang dari satu di antara dua responden merasa puas terhadap pekerjaan sekarang. Namun, nyaris tiga di antara empat responden mengaku tidak memiliki rencana untuk keluar dari perusahaan sekarang. 

Lantas, apa yang membuat para karyawan merasa sangat tidak bahagia? Survei Accenture berhasil mengungkap empat alasan utama dari ketidakpuasan kerja di antara para responden, seperti dikutip situs forbes.com: 

1. Gaji kurang (47 persen perempuan, 44 persen laki-laki) 
2. Kurangnya peluang pertumbuhan (36 persen perempuan, 32 persen laki-laki) 
3. Tidak ada peluang kemajuan karier (33 persen perempuan, 34 persen laki-laki) 
4. Merasa terjebak (29 persen perempuan, 32 persen laki-laki) 

Berbicara tentang gaji, salah satu temuan menarik mengungkapkan bahwa karyawan yang lebih tua cenderung kurang termotivasi oleh upah dibandingkan karyawan yang lebih muda. Hampir tiga perempat atau 73 persen responden dari generasi Y (kelahiran 1970-an sampai 2000) mengatakan termotivasi oleh upah. Sementara itu, hanya 67 persen responden generasi X (kelahiran 1960-an sampai 1970-an) dan 58 persen responden generasi Baby Boomers (1940-an sampai 1960-an), mengatakan hal serupa. 

Namun, jika bicara soal promosi yang biasanya diikuti dengan kenaikan gaji, penelitian ini mengungkapkan bahwa laki-laki jauh lebih mungkin meminta promosi (39 persen) dibandingkan perempuan (28 persen). 
Read the rest of this entry »

10 Cara Meningkatkan Kualitas


Sudah puaskah Anda dengan posisi yang ditempati? Sebaiknya jangan. Kunci mencapai karier yang memuaskan adalah dengan meningkatkan skill profesional.
Salah satu kunci sukses berkarier adalah jangan pernah membiarkan diri stagnan. Anda harus punya motivasi dan keyakinan untuk maju. Namun, tak cuma motivasi, Anda juga harus punya skill  memadai. Ini tak hanya didiamkan begitu saja, Anda harus mengatur dan meningkatkan kemampuan Anda secara efektif. Upgrade  kemampuan atau skill  akan membuka kesempatan lebih besar untuk meraih posisi puncak, juga akan menjaga Anda terdepak akibat persaingan di kantor.
Intinya, jangan cepat puas dan carilah cara untuk meningkatkan kualitas profesionalisme. Tak ada yang akan menikmati hasilnya selain diri sendiri, kok. Nah, berikut adalah beberapa trik untuk upgrade  skill Anda:
1. Nilailah diri sendiri
Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya Anda mengawalinya dengan menilai kinerja diri. Penilaian harus obyektif dan realistis. Jika Anda merasa kinerja Anda belum maksimal, nilailah seperti itu. Ambilah kertas, kemudian tuliskan poin-poin tugas apa saja yang Anda hadapi di kantor. Lalu, tanyakan pada diri Anda, seberapa jauh mampu menangani poin-poin tersebut.
Misalnya, jika Anda seorang supervisor  TI, tanyakan seberapa cepat Anda mampu mengikuti perkembangan teknologi yang ada saat ini? Tanyakan juga apakah Anda menikmati tugas-tugas tersebut. Daftar singkat ini akan membantu Anda memperoleh gambaran utuh mengenai kinerja Anda sendiri. Setelah diperoleh gambaran utuh, Anda bisa memutuskan, aspek mana yang sudah Anda kuasai, dan aspek mana mana yang perlu ditingkatkan.
2. Terus belajar
Pahamilah bahwa karier profesional merupakan sebuah proses di mana Anda memiliki kesempatan untuk mengikutinya terus menerus.
Jadi, gunakan kesempatan ini untuk menguasai kemampuan prosefesional. Kerjakan semua tugas dengan sebaik-baiknya, ikuti aturannya, cari tahu kelebihan dan kelemahan proses yang Anda ikuti, dan seterusnya. Dengan demikian, Anda akan mampu menjalankan semua tugas Anda dengan baik, saat ini dan di masa datang.
3. Be Responsible
Meskipun berada dalam naungan sebuah perusahaan, Anda yang akan menentukan karier. Jadi, bertanggungjawablah dan pastikan bahwa Anda mengambil semua peluang untuk meningkatkan skill  profesional Anda. Memperoleh tawaran untuk mengikuti training , seminar, atau keanggotaan sebuah asosiasi profesional? Tak perlu ragu untuk ikut dan bergabung karena skill  pun akan semakin kaya.
4. Jaga kinerja
Selain bertanggungjawab, Anda juga harus menerapkan standar pribadi di dalam mengerjakan tugas profesional Anda. Standar inilah yang akan menentukan kualitas kinerja. Di sisi lain, kinerja inilah yang akan menjadi dasar kenaikan jabatan atau promosi. Jadi, jangan segan bertanya kepada atasan. Jika memang merasa perlu, mintalah job  atau tugas baru yang menurut Anda menantang. Namun, jangan asal meminta penugasan. Ukur kemampuan dan yakin bahwa Anda memang mampu menerima tugas.
5. Jaga hubungan kerja
Meski tampaknya tak terkait langsung dengan skill , menjaga hubungan kerja dengan semualevel  merupakan salah satu strategi penting untuk mengembangkan kemampuan. Berusahalah agar mampu bekerja dalam tim secara efektif. Gunakan semua contoh dan teori profesional yang Anda punya untuk meningkatkan kinerja. Jika memungkinkan, jadikan diri Anda sebagai salah satu contoh bagi rekan kerja.
6. Ciptakan jaringan
Sisihkan dulu urusan kantor. Kini, saatnya untuk bersosialisasi dan menciptakan jaringan di luar kantor. Anda bisa bergabung dengan komunitas profesional di luar posisi karier, namun tetap bisa meningkatkan kualitas kinerja Anda. Contohnya, jika Anda seorang akuntan, tak ada salahnya bergabung dengan komunitas bursa. Yakinlah, ilmu dan jaringan yang Anda peroleh dan bina di komunitas itu akan sangat membantu karier di kemudian hari.
7. Carilah mentor
Cara terbaik menguasai sebuah bidang adalah belajar dari ahlinya. Jadi, jangan ragu untuk mencari mentor atau guru. Tentu, bukan dalam arti harfiah. Anda bisa, kok, misalnya “berguru” kepada penulis favorit Anda melaui buku-buku karyanya. Secara tak langsung, Anda akan menguasai ilmu Sang Ahli tersebut dan kemudian Anda terapkan dalam tugas sehari-hari. Tapi, bisa juga Anda langsung meminta petunjuk dari ahli yang Anda kenal. Yang penting, Anda yakin bahwa “guru” Anda ini memang ahli dan sudah memiliki pengalaman di bidangnya.
Kalau perlu, carilah mentor sebanyak-banyaknya. Semakin banyak mentor, semakin banyak ilmu yang bisa diserap, sehingga ketika dihadapkan pada suatu persoalan kerja, Anda memiliki banyak solusinya.
8. Siapkan masa depan
Selalulah bertanya, “Apa yang akan terjadi esok? Bagaimana mengatasinya?” Salah satu ciri pemenang adalah selalu selangkah di depan lebih dulu ketimbang kompetitornya. Ketika kompetitor tengah asyik bergulat dengan persoalan hari ini, Anda sudah mencari solusi untuk persoalan yang muncul esok hari. Cobalah berlatih membiasakan diri untuk berada selangkah di depan. Dijamin, Anda akan menikmati hasilnya lebih cepat dari yang Anda perkirakan.
9. Asah terus skill Anda
Dewasa ini banyak sekali tawaran pelatihan atau kursus singkat untuk semua bidang profesi, dari mulai pelatihan soal keuangan perusahaan, pelatihan program komputer, pelatihan leadership , dan sebagainya. Nah, seperti halnya poin ke-2 di atas, jangan ragu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, sekalipun tak berkait langsung dengan posisi Anda. Jangan takut untuk mengikuti tes uji kemampuan. Biasanya, ketakutan dan keraguan muncul ketika Anda belum melangkah. Begitu melangkah, Anda pasti mampu mengatasi keraguan-keraguan tadi dengan segera. Pengayaan skill  ini sudah pasti akan menjadi poin tersendiri dalam menjalani karier Anda.
10. Jangan lupakan teknologi
Ada banyak sekali situs atau jaringan sosial yang bisa Anda buka dan membantu meningkatkan skill  Anda. Cara paling mudah adalah mencarinya di Google. Anda juga bisa bergabung dengan komunitas-komunitas di Facebook atau Twitter. Jika Anda tertarik untuk meningkatkan kemampuan negosiasi, Anda bisa misalnya “berteman” dengan jagomarketing , jika Anda berniat mempelajari program komputer, Anda bisa bergabung dengan komunitas progammer  komputer, dan sebagainya.
Read the rest of this entry »

Cara Mengatasi Emosi di Kantor

Suasana hati yang buruk bisa merusak performa di kantor. Hasilnya, produktivitas menjadi tidak maksimal dan Anda bisa mendapat teguran dari atasan. 

Merasa sedih atau marah sesekali tanpa atau dengan alasan yang jelas memang wajar saja terjadi. Sekeras apa pun upaya Anda untuk selalu berpikiran positif, hari-hari kelabu tetap saja bisa menghadang di depan mata. 

Emosi yang fluktuatif tersebut dapat menjadi semacam racun, yang bukan hanya berdampak buruk terhadap kesehatan melainkan juga terhadap pekerjaan. Lantas, bagaimana cara menghadapinya? 

Mengeset ulang pola pikir 
Segala hal tergantung pada perspektif, termasuk perasaan Anda. Oleh karena itu, biarkan diri melihat dunia dalam cahaya baru. Dengan perhatian terfokus, Anda dapat mengubah pikiran untuk membuat perubahan positif dalam hidup. 

Tetapkan tujuan untuk menghentikan sirkuit lama yang memperkuat rasa takut dan amarah. Sebaliknya, arahkan perhatian Anda ke sesuatu yang baru dan positif. 

Menggunakan imajinasi 
Penelitian sekarang menunjukkan, meski pun Anda hanya membayangkan diri terlibat dalam suatu kegiatan, Anda dapat menciptakan hubungan syaraf yang terkait dengan mempelajari hal itu, tanpa benar-benar melakukannya. 

Fokuskan perhatian pada emosi positif untuk membuat jaringan perasaan sejahtera, bahagia, percaya, dan penuh kasih sayang. Dengan demikian, hari kerja Anda pun akan terasa lebih menyenangkan sekaligus meningkatkan kualitas hidup Anda. 

Mengistirahatkan pikiran 
Belajarlah untuk bermeditasi. Sisihkan waktu 10 menit ketika bekerja untuk menenangkan pikiran. Penelitian menunjukkan, meditasi tidak hanya mengubah struktur otak Anda, melainkan juga membantu membuat dan mengekspresikan emosi secara lebih positif
Read the rest of this entry »

Apasih Rahasia Pikiran Atasan di Kantor

Pernahkah Anda bertanya-tanya, hal apa yang ada di kepala atasan tiap kali berpapasan dengan Anda di lobi, lift, atau koridor kantor? Bagaimana pun, Anda tentu penasaran tentang kriteria karyawan ideal menurutnya, atau hal apa saja yang bisa membuatnya menilai buruk diri Anda. 

Kehidupan sosial 
Atasan mungkin tidak akan memerhatikan setiap gerak-gerik Anda, kecuali jika ada alasan untuk melakukannya. Tapi, jangan mengira kehidupan Anda di luar kantor terbebas dari pengawasan radarnya. 

Edith Onderick-Harvey, presiden Factor In Talent, sebuah firma konsultasi yang berbasis di Massachusetts menyarankan untuk berhati-hati membagikan rincian kehidupan Anda di media sosial. Setiap kali ingin meng-update status di Facebook, misalnya, tanyakan dulu kepada diri apakah Anda tidak keberatan atasan membaca status tersebut? 

''Berhati-hatilah tentang seberapa banyak yang Anda ungkapkan tentang akhir pekan, atau seberapa menyebalkan seorang rekan kerja menurut Anda,'' sarannya seperti dikutip situs womansday.com. Jika tidak, atasan bisa mulai menilai Anda kurang profesional dan mengubah pendapatnya tentang Anda. 

Sikap dan perilaku 
Suka atau tidak, politik kantor tetap memiliki pengaruh besar terhadap karier. ''Apa yang tidak disampaikan manajer Anda adalah bahwa hal yang mungkin bahkan lebih penting daripada menyelesaikan tugas dan mengikuti perintah, yaitu kemampuan Anda untuk bekerja sama dengannya dan dengan rekan kerja Anda,'' ujar Onderick-Harvey. 

Jadi, meski pun Anda mampu menyelesaikan semua tugas, jika rekan kerja menilai Anda abrasif, kasar, atau tidak menyenangkan, akan sulit bagi atasan untuk mempromosikan Anda. 

Buka suara 
Jangan takut mengungkapkan isi pikiran Anda. Menurut Patty Briguglio, presiden MMI Public Relation di Raleigh, North Carolina, karyawan paling berharga adalah mereka yang menunjukkan inisiatif. 

''Aku suka memiliki karyawan yang tidak takut menunjukkan kepribadiannya. Aku tidak ingin seseorang yang cuma mengisi tempat di meja,'' katanya. 

Jika Anda menginginkan promosi, kata Briguglio, minta promosi tersebut. Selain itu, beritahukan kepada atasan alasan Anda ingin sukses, saran konsultan lingkungan kerja, Steve Langerud, direktur kesempatan profesional di DePauw University. 

Ikuti petunjuk 
Jika tidak yakin apakah atasan lebih suka berkomunikasi lewat rapat, telepon, atau email, maka bertanyalah, saran pelatih karier dan eksekutif Lauren Mackler. Selain itu, tanyakan pula hal-hal apa yang perlu Anda konsultasikan dulu dengannya, atau hal-hal apa yang ia inginkan untuk langsung Anda tangani. 

Memberi laporan 
Mustahil bagi atasan untuk terus mengawasi apa yang dilakukan karyawannya setiap hari. Jadi, terserah kepada Anda untuk membuatnya tahu. ''Ketika Anda menyelesaikan sebuah proyek, kirim email berupa ucapan selamat kepada tim Anda dan CC kepada atasan,'' saran Mackler. 

Selain itu, Anda juga bisa mengirimkan gambaran bulanan tentang proyek-proyek yang telah diselesaikan dan berbagai pencapaian lainnya
Read the rest of this entry »